PAMASHIS (Paguyuban Makan Siang Hipmi Solo)

Sabtu, 16/06/2012 06:00 WIB

Paguyuban Makan Siang Hipmi Solo (Pamashis)

Diawali dengan Makan, Dilanjut Diskusi Bareng…

Banyak cara yang bisa digunakan untuk melakukan diskusi dan silaturahmi. Ada yang melakukan diskusi dan silaturahmi tersebut dengan membuat forum resmi. Namun ada pula yang menghadirkan kedua momentum tersebut dalam suasana santai. Hal inilah yang dilakukan kawula muda yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Solo.

Pada 20 Mei 2012 lalu, Hipmi Solo membentuk Paguyuban Makan Siang Hipmi Solo yang disebut dengan Pamashis. Pamashis ini merupakan wadah berkumpul bagi anggota Hipmi yang gemar mengonsumsi daging kambing. Bisa repot jika tak gemar menyantap daging kambing tapi ingin bergabung dengan Pamahis. Pasalnya, acara makan siang selalu dilakukan di warung-warung yang menjual daging kambing. Dengan terpaksa, yang tidak menyukai daging kambing harus pesan menu lain.

Ketua Pamashis, Mochammad Muslich, mengatakan, alasan Hipmi membentuk paguyuban ini ada beberapa hal. Di antaranya menjadi kebangkitan dari anggota Hipmi itu sendiri. Lalu, dengan makan siang bersama ternyata bisa mewadahi anggota Hipmi yang ingin beramal, sedekah, berulang tahun karena bisa mentraktir teman-teman yang berada dalam Pamashis.

Selain itu, mengumpulkan anggota Hipmi untuk melakukan rapat koordinasi bukanlah hal yang mudah, mengingat kesibukan dari masing-masing anggota. Namun berbeda ketika ada kegiatan makan siang bersama, banyak anggota yang bisa meluangkan waktunya. “Setiap orang pasti menyempatkan waktu untuk makan siang. Sehingga kegiatan Pamashis banyak yang datang pasalnya untuk durasi waktu paling hanya satu jam. Dan manfaatnya sangat banyak yaitu bisa diskusi dan bersilaturahmi,” terang Muslich kepada Joglosemar di sela-sela acara makan siang di warung sate depan Stasiun Balapan Solo, Jumat (15/6).

Efektif

Sejak terbentuknya Pamashis, sudah melakukan lima kali makan siang. Dengan cara begitu, ternyata sangat efektif untuk mengumpulkan anggota Pamashis yang juga anggota Hipmi. Sehingga ketika ada permasalahan atau isu hangat, bisa segera diselesaikan atau ditanggapi melalui forum Pamashis ini. Karena kalau hanya menunggu rapat koordinasi Hipmi yang sebulan sekali, dirasa terlalu lama. “Untuk waktu situasional, kalau dalam seminggu ada dua orang yang merayakan ulang tahun atau tasyakuran lainnya, maka kegiatan makan siang bisa dua kali,” ujar Muslich.

Tak Sekadar Canda Tawa

Mengikuti acara Paguyuban Makan Siang Hipmi Solo (Pamashis) memang mampu menghilangkan pikiran yang sedang stres. Pasalnya, situasi dalam makan siang tersebut selalu diselimuti dengan canda tawa serta gurauan. Tidak heran, meja makan yang digunakan Pamashis ini selalu menjadi pusat perhatian bagi pengunjung dari rumah makan tersebut.

Meski kegiatan ini diisi dengan makan siang dan canda tawa namun jangan disepelekan. Karena dengan makan bersama, kemudian bercanda tawa ternyata hasilnya sangat luar biasa. Ketua Pamashis, Mochammad Muslich mengatakan dengan pertemuan tersebut mampu memberi peluang bisnis.

Pasalnya, dari anggota Pamashis yang berprofesi sebagai pengusaha, akan saling memberikan peluang bisnis antara satu sama lain. Misalnya tukar menukar info bisnis, tukar pikiran permasalahan bisnis, dan tidak menutup kemungkinan dilakukan koordinasi terkait dengan program kerja atau isu seputar Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Solo.

“Meski santai, tapi kami itu serius dan tetap ada hasilnya,” terang Muslich kepada Joglosemar di sela-sela acara makan siang di warung sate depan Stasiun Balapan Solo, Jumat (15/6).

Ke depan, acara makan siang terus akan dilakukan dengan lokasi yang berpindah-pindah. Bahkan tidak menutup kemungkinan acara makan siang dilakukan di luar Solo, supaya suasananya berbeda. “Kalau sudah ada yang ingin berbagi rezeki, maka bisa langsung menghubungi ketua atau sekretaris kemudian info langsung disebar melalui pesan layanan singkat dan BlackBerry Messenger,” pungkasnya.

Terima kasih kepada Dwi Astuti dan Harian Joglosemar , atas tulisannya. . .

-=source=-

PINDAH KANTOR

PENGUMUMAN

Kantor Notaris dan PPAT Online

WEDY ASMARA, S.H., Sp.Not

Gentan Baru Permai Blok A No. 2 (Pondok Baru Permai),

Gentan, Baki, Kab. Sukoharjo.

-= PINDAH ALAMAT BARU =-

Jalan Raya Songgolangit No. 14

Gentan, Baki, Kab. Sukoharjo

[ Samping Alfamart ]

Telp./Fax (0271) 7650042


One Day Service

One Day Service BPN Sukoharjo

Pada tanggal 25 Februari 2011 hari Jum’at, BPN Sukoharjo menggelar acara ONE DAY SERVICE BPN Sukoharjo yang digelar di Hotel Lor In Solo.

Turut hadir pula dalam acara ini Bupati Kabupaten Sukoharjo Bp. H. Wardoyo Wijaya, SH., Kakanwil BPN Jateng Ir. H. Doddy Imron Kholid, Msi., segenap pegawai BPN Kabupaten Sukoharjo, Ketua PENGDA IPPAT Kabupaten Sukoharjo, Bp. Wedy Asmara, SH, Sp.Not. dan Notaris PPAT Kabupaten Sukoharjo.

Bupati Kab. Sukoharjo Bp. H. Wardoyo Wijaya, SH, bersama dengan Kakanwil BPN Jateng Bp. Ir. H. Doddy Imron Kholid, Msi. saat mengunjungi gerai ONE DAY SERVICE BPN Sukoharjo dihalaman Hotel Lor In Solo.

Bupati Kab. Sukoharjo Bp. H. Wardoyo Wijaya, SH memberikan Sertipikat kepada Ketua PENGDA INI-IPPAT Kab. Sukoharjo Bp. Wedy Asmara, SH., Sp.Not. di halaman Hotel Lor In Solo pada saat acara kegiatan ONE DAY SERVICE BPN Sukoharjo

Photo bareng Notaris dan PPAT Kab. Sukoharjo usai mengikuti acara ONE DAY SERVICE BPN Sukoharjo di halaman Hotel Lor In Solo

Roni

Bakti Sosial

KEGIATAN BAKTI SOSIAL

Belum lama ini PENGDA INI-IPPAT Kabupaten Sukoharjo, mengadakan kegiatan  Bakti Sosial dalam rangka berbagi dengan sesama. Dalam Lawatannya kali ini PENGDA INI-IPPAT Kabupaten Sukoharjo, menjambangi Panti Asuhan NU di Sukoharjo.

Program ini cukup bagus, dan bisa dijadikan agenda tahunan PENGDA INI-IPPAT Kabupaten Sukoharjo.

Bakthi Sosial Panti Asuhan NU, Sukoharjo

PENGDA INI-IPPAT Kab. Sukoharjo

Perbedaan Notaris dengan PPAT

Mungkin anda masih bertanya-tanya kenapa Notaris sama PPAT berbeda? padahal kan sama sama berhubungan dengan permasalahan pertanahan. Disini saya akan menjelasakan mengenai perbedaan Notaris dengan PPAT.

Notaris, Notaris disumpah oleh Pengadilan Negeri dan lingkup kerjanya untuk seluruh Indonesia, disamping itu tugas notaris menangani segala akta (jadi lebih luas dari PPAT).

Sedangkan PPAT disumpah oleh kepala Badan Pertanahan Nasional dan lingkup kerjanya hanya perwilayah/perkodya.Menurut PP RI No. 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah Pasal 1 yang
dimaksud dengan PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) yaitu pejabat umum yang diberi kewenangan untuk membuat akta-akta otentik mengenai perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun.Perbuatan Hukum yang dimaksud mengenai :

a. jual beli
b. tukar menukar
c. hibah
d. pemasukan ke dalam perusahaan (inbreng)
e. pembagian hak bersama
f. pemberian Hak Guna Bangunan/Hak Pakai atas tanah Hak Milik
g. pemberian Hak Tanggungan
h. pemberian kuasa membebankan Hak Tanggungan

PPAT dibagi menjadi dua bagian, yaitu PPAT Sementara dan PPAT Khusus.
PPAT Sementara adalah pejabat pemerintah yang ditunjuk karena jabatannya untuk melaksanakan tugas PPAT dengan membuat akta PPAT di daerah yang belum cukup terdapat PPAT.
Sedangkan PPAT Khusus adalah pejabat BPN yang ditunjuk karena jabatannya untuk melaksanakan tugas PPAT dengan membuat akta PPAT tertentu khusus dalam rangka pelaksanaan program dan tugas pemerintahan tertentu.

Di Sukoharjo 30% tanah tak bersertipikat ?

Kepala Badan Pertanahan Nasional [BPN] Suoharjo, Santoso, melalui Kasubag Tata Usaha BPN Sukoharjo, Sepyo Ahnanto, mengatakan bidang tanah yang belum memiliki sertipikat tersebut mayoritas berada diluar kawasan perkotaan. Diantaranya Kecamatan Weru, Kecamatan Tawangsari dan Kecamatan Bulu.

Sekitar 30% dari 466,66 kilometer persegi [km2] total luasan tanah di Kabupaten Sukoharjo belum memiliki sertipikat

“Untuk daerah-daerah yang perkotaan, seperti Kartasura, Grogol dan Sukoharjo Kota sebagian besar sudah disertipikatkan. Seperti tanah di Kartasura, hampir semua sudah memiliki sertipikat,” ungkap Sepyo saat dijumpai Espos dikantor BPN Sukoharjo.

Status kepemilikan tanah tak bersertipikat tersebut sebagian merupakan hak milik perseorangan. Namum beberapa bidang tanah itu di antaranya juga milik pemerintah daerah serta instansi-instansi vertikal. Untuk menekan luasan lahan yang tak bersertipikat tersebut, imbuh Sepyo, BPN mengandalkan pendaftaran sertipikat tanah secara rutin di masyarakat.

Menurut Sepyo, Pengajuan sertipikat tanah dari masyarakat mencapai kurang lebih 150 bidang per bulan. Di sisi lain Program Nasional [Prona] dan Program Daerah [Proda] untuk sertipikat tanah yang kurang mampu ikut mengurai luasan tanah tak bersertipikat.

“Pada tahun 2009 sempat tidak ada Prona, Pada 2011 ini akan ada Prona lagi, Alokasi Prona untuk Sukoharjo pada tahun ini mencapai 3.400 bidang tanah. Mengenai besaran anggarannya, kami masih menunggu dari provinsi,” jelas Sepyo.

Begitulah sekiranya yang saya baca di koran harian Solopos.

-=Source=-